Feeds:
Posts
Comments

iPhonesian di depan Gereja Kathedral

Komunitas iPhoneography terbesar di Indonesia, iPhonesia, kembali mengadakan photowalk pada hari Minggu tanggal 18 Desember 2011 lalu. Photowalk yang bertajuk “iPhonesia with simPATI Photowalk Passer Baroe” ini dimulai dari Stasiun Gambir tepatnya pada pukul 14.30. Setelah pembagian kaos dan briefing, para peserta yang terdiri dari 65 orang ini mulai berjalan berkelompok.

Briefing di Stasiun Gambir

Perjalanan mengambil rute Gereja Kathedral – Passar Baroe – Lapangan Banteng lalu kembali lagi ke Stasiun Gambir. Saat photowalk para peserta tidak hanya memotret tanpa tujuan, moderator iPhonesia bersama simPATI sudah menyiapkan tantangan dan hadiah untuk dimenangkan. Ada tiga kategori foto yang bisa mereka jepret untuk memenangkan hadiah 3 voucher simPATI senilai Rp.500.000 dan sebuah baterai box untuk juara favorit. Kategorinya adalah arsitektur, candid human interest, dan candid moderator iPhonesia.

Setelah selesai berjalan selama kurang lebih 2,5 jam, para peserta berkumpul di Kedai Tjikini. Mereka diberi kesempatan untuk mengedit foto-foto mereka sambil menikmati kopi yang telah disediakan oleh simPATI. Kemudian para moderator iPhonesia yang terdiri dari Aries Lukman @arieslukman, Riswan Christanto @jakontil, Ivan Sutanto @pongkipong, dan Arslan Yatim @sialan_ menjuri ke-174 foto yang sudah disubmit oleh para peserta.

Tantangan dimenangkan oleh Roy Pardomuan @roy_raja, Benita Theda @btheda, dan Anglia Ayudina @angliayudina yang masing-masing mendapatkan voucher simPATI sebesar Rp.500.000, serta Yannis Pratasik @photolucu sebagai juara favorit mendapatkan baterai box. Kemudian acara ditutup dengan penyerahan hadiah oleh simPATI yang diwakili oleh Rajasa Adhi @rajasaadhi.

Pemenang iPhonesia with simPATI Photowalk Passer Baroe

[Ditulis untuk iPhonesia dan gopego.com]

Resolusi oh Resolusi

Bagai dejavu yang tidak pernah berakhir, kita kembali ke penghujung tahun. Saat ini semua orang seakan berlomba membuat resolusi tahun baru paling dasyat untuk mereka taklukkan di 2012. Aku sendiri sudah tahu apa saja yang aku inginkan. Hanya saja yang aku inginkan terlalu banyak sehingga aku bingung mana yang kira-kira akan aku kejar untuk diwujudkan.

Sebutlah satu bidang: pendidikan. Dari bidang ini saja aku menginginkan mengambil gelar Certified Financial Planner®, Certified Hypnotherapist, Certified Human Resource Professional, M.Div., dan terakhir ingin sekolah fotografi. Banyak ya? Saking banyaknya hingga saat ini aku belum tahu yang mana yang akan aku ambil terlebih dahulu. :D

Lalu ada berbagai keinginan yang rasanya harus aku pilih salah satu. Antara membeli kendaraan, menerbangkan orangtua berlibur, dan aku ingin sekali keliling Eropa tahun ini.

Kalau bicara dari segi fotografi. Selain tentunya aku ingin sekolah foto, aku memiliki mimpi yang mungkin hanya aku yang punya. Aku mengagumi seorang iPhoneographer, fotografer dengan mempergunakan iDevice, yang aku temui melalui Instagram. Walau fotoku pernah beberapa kali di-like olehnya, tetapi ia hanya mem-follow orang-orang tertentu yang ia idolakan. Targetku tahun depan ialah aku harus di-follow olehnya! :D

Menulis beda lagi. Aku memang sangat suka menulis tetapi aku tidak terlalu ingin membuat target yang besar di bidang ini. Alasannya karena aku tetap ingin menulis di saat aku merasa nyaman dan tidak dikejar deadline. Meskipun demikian, aku juga tidak menutup peluang apabila ada yang ingin mempergunakan jasaku. Aku juga tidak terpikir untuk meneruskan sekolah di bidang ini. Menurutku menulis itu tidak perlu sekolah khusus, cukup dengan membiasakan membaca dan memperluas wawasan serta pergaulan.

Pekerjaan utamaku bagaimana? Pertanyaan bagus. Saat ini belum terpikir untuk menetapkan target tertentu di 2012. Aku ingin mencoba menjalani sebisaku dulu dan mencari kenyamanan serta kecintaan terhadap pekerjaan ini. Aku tidak ingin memaksakan diriku untuk bekerja seperti tahun ini karena pada akhirnya aku sendiri yang muak dan ternyata hasilnya tidak baik.

Apapun yang aku kerjakan harus aku kerjakan dengan perasaan nyaman dan kecintaan terhadap pekerjaan itu. Bila tidak bagaimana aku bisa mempersembahkan itu untuk Tuhan? Aku mencoba memaksimalkan semua potensiku baik di pekerjaanku, saat menulis, saat memotret, dan saat berorganisasi di Gereja. Memang sangat tidak ‘kolerik melankolik’ tetapi rasanya aku ingin tahun 2012 go with the flow saja. :)

1mxtrees

1mxtrees is a one million Christmas trees project by my friend, Chris Prakoso. The goal is to collect one million Christmas trees by Dec 25th via Instagram, an iPhone app. Chris offers some great prizes like tripods and lenses. To win it you have to collect as many Christmas trees as you could and post it in Instagram with #1mxtrees in just 4 weeks.

This project was originally created last year when Chris made a 1kxtrees challenge, also in Instagram. At that time, Instagram was just launched and made collecting a thousand trees in just 2 weeks seems too much. But he made it anyway. All participants collected 1,101 Christmas trees!

It’s been a week now since Chris started the challenge and the participants has only collected more than 3,800 Christmas trees. I, myself, have submitted almost 50 Christmas trees. In a way it’s much more than last year, but for a million, it’s still too far. Has Chris set the bar to high? Will it be possible to collect another 999,996,200 in less than 3 weeks?

To know more about the project and more important, to join it, please open Instagram user ID @1mxtrees or Chris’ page @mahadewa or check out the project’s website. Let’s make this Christmas even merrier with a large dose of trees!! :D

Against My Belief

Aku suka menulis yang aku suka, tentunya. Aku berusaha selalu mencari sesuatu yang baru, yang aku suka, untuk kutulis. Ada saat di mana rasanya aku harus menulis dan tidak ada yang terlintas. Sebaliknya ada saat di mana keinginan menulis begitu besar tetapi tidak ada topik yang terlintas untuk kubahas.

Menyukai sesuatu bukan berarti sudah mengerti seratus persen tentang hal tersebut. Ada kalanya aku harus melakukan penelitian. Kadang dengan mendengar, kadang melalui tulisan orang lain. Aku menemukan bahwa kotbah hari minggu di gereja memberi banyak inspirasi untuk dikupas dengan cara berpikirku -yang mungkin dangkal karena tidak ada latar belakang teologi-.

Yang paling menarik dari segala pengalamanku membantu orang dengan tulisanku adalah masalah prinsip. Maksudnya? Ada kalanya ketika aku menyodorkan bantuan dan memberikan komitmen, ternyata ada hal yang bertentangan dengan prinsipku. Sebagai penulis aku ingin jujur, baik kepada diri sendiri dan pembaca. Menulis sesuatu yang salah berentangan dengan hati nuraniku. Tetapi bila kepalang memberikan komitmen bagaimana?

Aku berharap agar aku dapat memutuskan yang terbaik bagi diriku sendiri dan orang yang aku bantu. Komitmen dan prinsip tentu harus tetap aku berikan sepenuhnya tanpa bertentangan satu sama lain.

Doakan saya yaa! :D

Quote 11.29.11

“If you learn something hard enough, you will be able to do it.”

Pohon Natal

Akhir tahun merupakan bagian yang paling menyenangkan di sepanjang tahun. Sejak kecil bulan Desember memberi kesan tersendiri bagiku, berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Masih terkenang dalam ingatanku saat aku kecil ketika Natal menjelang akan banyak makanan, kue, dan berbagai hadiah dibawah pohon Natal.

Ada beberapa hal yang membuatku tidak sabar menyambut bulan Desember tahun ini. Salah satunya ialah pohon Natalku yang baru. Akhir tahun lalu -setelah Natal menjelang Tahun Baru- aku membeli sebuah pohon Natal. Kok ya beli pohon Natal setelah Natal? Hal ini memang tidak direncanakan. Saat itu aku dan temanku sedang hangout di Pondok Indah Mall. Kami melihat-lihat beberapa toko dan ada sebuah toko yang memajang berbagai pohon Natal yang di-discount­. Aku jatuh cinta pada sebuah pohon Natal dan langsung membelinya tanpa berpikir panjang.

Aku memiliki sebuah kecintaan terhadap pohon Natal. Setiap menjelang Natal aku wajib mengunjungi berbagai pusat perbelanjaan yang memasang pohon Natal. Aku bisa duduk memandanginya berjam-jam dan mengabadikan berbagai pohon itu dengan kamera telepon genggamku.

Pohon Natal kami sudah berganti beberapa kali sejak aku kecil. Pohon Natal pertamaku tentu tampak besar sekali. Pohon Natal itu digunakan bertahun-tahun hingga rusak karena digigit tikus. Maklum, dipasangnya hanya sebulan, disimpannya sebelas bulan dan tidak pernah diperiksa selama disimpan. Ada sebuah masa saat aku remaja, kami tidak memiliki pohon Natal. Pohon Natal lama sudah tidak lagi layak sedangkan saat itu keuangan keluarga kami tidak memungkinkan untuk membeli sebuah pohon Natal yang baru. Pada saat itu yang kami tahu harga pohon Natal bisa lebih dari satu juta rupiah, belum termasuk ornamennya.

Beberapa tahun kemudian saat kami sedang berbelanja, aku dan mama menemukan sebuah pohon Natal yang bagus dan harganya sangat terjangkau. Pohon itu tidak sebesar pohon yang dulu. Hanya tiga perempatnya. Tetapi cukup. Lalu kami membelinya. Pohon Natal itu masih ada hingga sekarang. Aku berpikir untuk menyumbangkannya agar pohon ini bisa memdatangkan kedamaian di keluarga lain.

Melalui sebuah pohon Natal aku diingatkan akan berkat dan penyertaan Tuhan terhadap keluargaku yang tidak ada habisnya. Ada saat di mana segalanya baik, ada saat di mana hidup penuh dengan perjuangan, tetapi pada akhirnya segalanya akan indah. Aku sangat bahagia karena tahun ini aku bisa membelikan keluargaku sebuah pohon Natal. Aku percaya Tuhan akan memelihara kehidupan keluarga kami, pohon Natalku yang baru tandanya.

Selamat memasang pohon Natal. Semoga melalui pohon Natal yang terpasang di rumah kita, keluarga dapat disatukan dalam damai sejahtera dan berkat Tuhan melimpahi kita selalu. Amin. :)

Bintangmu

Kelahiran Tuhan Yesus ditandai oleh sebuah bintang. Aku percaya setiap orang pun demikian. Terangnya bintang kitalah yang berbeda. Ada yang bersinar, ada juga yang dipendam hingga tak ada yang tahu. Seorang motivator pernah mengajarkanku, “Tuhan tidak menciptakan kita agar kita menjadi biasa-biasa saja.” Artinya dengan kita menjadi biasa, kita menyalahi kodrat kita sebagai anak Tuhan.

Aku belajar dari seorang Agnes Monica. Beberapa tahun lalu saat ia diwawancara sebuah media, ia mengatakan bahwa ibunya mengajarkan dia untuk jadi yang nomor satu dibidang apapun yang ia tekuni. Kalau ia menjadi atlit, ya atlit nomor satu. Kalau ia menjadi penyanyi, ya penyanyi nomor satu. Bahkan kalau ia harus menjadi tukang sapu pun, ya tukang sapu nomor satu. Pesan tersebut terus aku ingat. Apapun yang kita jalani, kita wajib menjadi bintang.

Bila hidup adalah perlombaan, maka Natal adalah pitstop-nya. Setiap tahun kita diingatkan akan kelahiran, pengurbanan, dan keselamatan. Menjadi bintang di kehidupan kita menurutku tidaklah mudah. Untuk menjadi bintang di gereja, kita harus mengorbankan waktu dan tenaga. Untuk menjadi bintang di pekerjaan, kita harus banyak belajar dan mengembangkan diri terus menerus. Untuk menjadi bintang di keluarga, kita harus banyak mengalah dan mendengar.

Menjadi bintang bukan berarti happening, ngehits, atau populer. Menjadi bintang berarti memaksimalkan potensi kita dan mengusahakan sebisa kita talenta yang telah Tuhan berikan. Menjadi bintang berarti terus belajar dan terus menggali kemampuan apalagi yang kita miliki.

Motivator lain pernah mengajarkan padaku bahwa sukses adalah saat kita sudah menyelesaikan hidup kita di dunia. Kegagalan dan keberhasilan kita selama kita masih hidup masih bisa kita perbaiki dan tingkatkan. Jadi selagi kita masih bernafas, belum terlambat untuk membuat bintang kita bersinar terang. Sehingga apabila nanti kita sudah mencapai garis finish kita dapat mempersembahkan bintang kita yang terang kepada pencipta kita.

Selamat Natal!

[Ditulis untuk Majalah Kasut - GKI Pondok Indah]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.